LATAR BELAKANG
Seiring dengan berlalunya masa kenabian, syariat Islam semakin tenggelam, dan manusia disibukkan dengan kesibukan dunia. Akibatnya lenyaplah peranan akhlak yang telah membentuk generasi pertama yang mulia dari umat ini.
Para Shalaf al-Shalih memotivasi manusia untuk berpegang teguh kepada al-Kitab dan al-Sunnah serta menjauhi bid’ah. Bahkan mereka mengkhawatirkan apa yang diperolehnya, baik itu berupa pakaian, kendaraan, pernikahan bahkan jabatannya. Mereka takut bila kenikmatan dunia termasuk kenikmatan akhirat yang dipercepat hanya dirasakan di dunia saja. Sebagaimana shahabat Umar bin Al-khatab ra berkata:
“Kalaulah aku tidak takut kebaikanku berkurang, aku akan mengikuti pola kehidupan kalian yang enak, namun aku telah mendengar Allah SWT menjelaskan tentang suatu kaum:
‘kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniamu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengan nya’ (QSAl-Ahqaf:20) Yang membedakan Ahli Allah dengan selainnya adalah mereka selalu mengharapkan akhirat dan mempersiapkan diri atas segala peristiwa yang terjadi disana” (Farid,2003:43).
Begitulah kehidupan dan akhlak mereka para salafu ashalih, lain dengan kehidupan kita sekarang ini, apalagi dalam konteks yang lebih makro, dewasa inidemonstrasi, anarkisme, pemerkosaan, penjarahan, perusakan fasilitas umum bahkan pembunuhan, itu sangat terlihat jelas, (terlepas dari apakah mereka yang melakukan itu kaum terpelajar atau tidak, yang jelas demontrasi itu atas nama kaum terpelajar) bukan lagi masalah yang memang telah mewabah dari dulu yaitu kegiatan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) di mana-mana hampir di semua instansi baik pemerintah maupun sipil. Kalau tidak KKN itu dikatakan kuno, ketinggalan, “orang jujur akan hancur”.
Jika dilihat dari kaca mata pendidikan, hal yang demikian itu mungkin terjadi, karena memang selama ini pendidikan kita lebih berkonsentrasi kepada pembangunan ekonomi pragmatis dengan orientasi keuntungan jangka pendek yang lebih kasat mata, imbasnya pada pendidikan ialah terbengkalainya pendidikan nasional kita, pantaslah apa yang dikatakan Ahmad Tafsir bahwa “pendidikan kita dianggap gagal karena tidak mampu menghasilkan manusia berkualitas, beriman, dan berakhlak tinggi yang benar dari sifat kesewenang-wenangan yang muncul dalam prilaku KKN ” (Mimbar Pendidikan, 1998:24).
Pendidikan yang hanya terbatas pada belantara kulit-kulit teori hanya akan melahirkan pendidikan yang bersifat “monoton” tidak “kreatif”. Sebaliknya pendidikan yang berwawasan nilai, secara metodologis tidak hanya merupakan transformasi dan proses intruksional melainkan sampai pada proses intemalisasi dan trans-internalisasi nilai. Pendidikan berwawasan nilai akan meletakan kebenaran ilmiah adalah pada kebenaran yang bersifat hipotetika-verifikatif yang selalu mendorong para ilmuwan untuk meneruskan kebenaran yang telah diajukan oleh para ilmuwan lain.
Sedangkan kaitannya dengan nilai Ilahiyah dalam pendidikan yang berwawasan nilai tidak berhenti sampai pada apa yang di sebutkan di atas, namun sampai pada tataran “hakikat” dan “ma ‘rifat dan nilai seperti itulah yang ingin dicapai dalam pendidikan Islam (Ismail dan Mukti, 2000:26-27).
TUJUAN PEMBELAJARAN
Pentingnya pendidikan Islam menjadi suatu tuntutan dan kebutuhan mutlak umat manusia dewasa ini agar :
a. Menyelamatkan anak-anak, dari ancaman dan hilang sebagai korban hawa nafsu para orang tua terhadap kebendaan, sistem materialiatis non humanistis, pemberian kebebasan yang berlebihan dan pemanjaan.
b. Menyelamatkan anak-anak, di lingkungan bangsa-bangsa sedang berkembang dan lemah dari ketundukan, kepatuhan dan penyerahan diri kepada kedhaliman dan penjajahan.

PEMBAHASAN
Suatu keadaan ketika seseorang sudah tunduk pada nafsunya sehingga hilangnya rasa malu, kemudian melakukan tindakan menurut keinginan mereka sendiri walaupun itu bertentangan dengan aturan agama atau moral dan seringkali mereka tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan, keadaan seperti ini sering terjadi dan disebut sebagai krisis moral. Krisis moral berawal ketika seseorang mengikuti kebiasaan yang terjadi pada lingkungannya tanpa mengetahui akibat dari mengikuti tren tersebut, dan seringkali mereka tidak berpegang pada aturan agama. Sebagai contoh : dalam cara berpakaian, dewasa ini masyarakat kita umumnya mengikuti tren berpakaian dari budaya barat dari figur figur yang terkenal atau idola mereka, apapun kegiatan yang mereka lakukan, masyrakat kita cenderung ingin mengikutinya, padahal belum tentu apa yang dikerjakan oleh idolanya tersebut sesuai dengan aturan agama dan budaya yang ada di wilayahnya. Degradasi moral juga terjadi karena pembiasaan yang kita lakukan sejak masih kecil atau sejak dini. Sering kali pembiasaan ini secara tidak sadar kita lakukan. Contoh yang paling nyata adalah ketika seorang pelajaran yang seharusnya berpendidikan dan membangun bangsa dengan ilmu yang mereka miliki, ketika ujian melakukan kecurangan (menyontek), kebiaasan seperti ini nantinya di masa depan orang-orang tersebut merasa hal-hal yang semestinya tidak benar tersebut menjadi hal yang wajar. Krisis moral tersebut secara garis besar terjadi karena 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
A. Faktor internal
Faktor internal disini adalah pribadi dari seseorang itu sendiri yang meliputi pemikiran dan nafsu, pemikiran disini adalah usaha usaha pembenaran terhadap apa yang ingin mereka kerjakan, sedangkan nafsu adalah keinginan untuk mendapatkan segala sesuatu. Seperti yang kita ketahui setiap orang pada dasarnya memiliki beberapa keinginan. Yakni :
1. Nilai pribadi
2. Keuangan
3. Hubungan sosial
4. Hubungan masyarakat
5. Hubungan keluarga
6. Karir
7. Materi

B. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berada diluar pribadi seseorang, oleh sebuah penelitian faktor eksternal ini mempengaruhi 80% dari apa yang ingin dikerjakan oleh individu. Dalam faktor eksternal ini ada beberapa hal yang menurut kami menjadi penyebab utama dalam krisis moral
a. Penyimpangan terhadap agama
b. Penyimpangan terhadap pendidikan
c. Penyimpangan terhadap budaya
d. Hubungan sosial masyarakat

a. Penyimpangan terhadap agama
Seperti yang kita ketahui bahwa seseorang anak itu dilahirkan dalam kondisi fitrah dan orang tuanya lah yang akan menjadikan dia sebagai orang yang baik atau tidak baik. Sebagaimana yang disampaikan diatas urgency pendidikan agama adalah untuk menjaga anak anak kita dari krisis moral yang terjadi dewasa ini, namun pada kenyataannya pola pendidikan anak yang kita lakukan itu jauh dari tuntunan agama, masyarakat lebih sering mendidik anak menggunakan pola pola barat atau mengikuti bagaimana cara mendidik anak yang dilakukan oleh idola mereka padahal Al-Quran telah menjelaskan secara rinci bagaimana cara mendidik anak yang baik seperti yang tertuang dalam surat Lukman ayat 12-19
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Lukman : 12)

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”.(QS. Lukman : 13)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.(QS. Lukman : 14)

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS. Lukman : 15)

(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
(QS. Lukman : 16)
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).(QS. Lukman : 17)

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.(QS. Lukman : 18)

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.(QS. Lukman : 19)

Disini dijelaskan bahwa mendidik anak yang baik adalah dengan menanamkan tauhid kepada anak tersebut, ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan kondisi sekarangdimana orang tua lebih mementingkan pendidikan dunia daripada penanaman terhadap tauhid. Pola pendidikan yang seperti sekarang inilah yang menyebabkan banyak terjadinya penyimpangan dan korupsi dikarenakan mereka tidak begitu percaya terhadap tuhan.

b. Penyimpangan terhadap pendidikan
Pola pendidikan yang diadopsi oleh negara kita beberapa tahun ini berkiblat pada pendidikan dunia baratdimana inti dari pendidikan tersebut adalah menanamkan pengetahuan yang setinggi tingginya tanpa di imbangi oleh pendidikan moral dan kondisi ke-Indonesiaan. Pola pendidikan seperti inilah yang membuat sebagian besar masyarakat Indonesia menjadi Liberalis. Selain itu orientasi pendidikan kita ternyata tidak selalu kepada ilmu pengetahuan, namun yang terjadi adalah orientasi pada nilai sehingga orang akan mempunyai pola pikir “ketika nilainya bagus maka dia adalah orang yang pintar” tanpa melihat darimana dia mendapatkan nilai tersebut, sehingga yang banyak terjadi adalah orang melakukan segala macam cara untuk mendapatkan nilai yang baik, ini diperparah oleh lingkungan dimana lingkungan tersebut menuntut orientasi terhadap nilai yang secara tidak langsung mendukung apa yang dikerjakan oleh individu tersebut. Kebiasaan pendidikan yang ditanami sejak dini seperti ini membuat orang merasa terbiasa melakukan kecurangan untuk kepentingan dirinya sendirisehingga menyebabkan penyimpangan penyimpangan dalam bidang pendidikan.

c. Penyimpangan terhadap budaya
Budaya Indonesia sangat beragam dan ciri utama dari budaya Indonesia adalah nilai kesopanan dan etika, budaya kita mengajarkan tentang bagaimana seorang anak hormat kepada ke orang yang lebih tua dan menyayangi terhadap sesamanya. Dari etika berpakaian dan bergaul sehari hari sudah banyak sekali penyimpangan yang terjadi terhadap budaya kita, orang Indonesia seringkali kita lihat malu mengakui budayanya sendiri dan malah bangga dengan budaya orang lain padahal budaya yang mereka ikuti bertentangan dengan budaya kita lebih lebih dengan ajaran agama.

d. Hubungan sosial masyarakat
Dalam pergaulan kita seringkali mengikuti tren yang dianut oleh mayoritas masyarakat tanpa melihat apakah yang banyak itu baik, karena seringkali yang terjadi ialah mayoritas tersebut tidak selalu benar karena didasari oleh tren ikut ikutan.

AKIBAT YANG DITIMBULKAN
Krisis moral yang terjadi dewasa ini menyebabkan banyak sekali terjadinya hal hal yang negatif yang berimbas kepada kemunduran negara ini, hal hal tersebut sebagai berikut :
a.Korupsi
b.Anarkisme
c.Provokasi
d.Malas
e.Kesalahan dalam berpakaian
f.Pergaulan
g.Narkoba
h.Perjudian
i.Aliran sesat
j.Terorisme
k.Dll.


CARA PENGANGGULANGAN MENURUT ISLAM
Renungan :
surah al-fatihah ayat 5, surah al-baqarah 2-5.
Dalam surah al-fatihah dan surah al-baqarah sebenarnya cara penanggulangannya itu adalah seseorang kembali kepada ajaran Islam yakni kembali kepada tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah karena sebagaimana dijelaskan dalam surah al-baqarah ayat 2 bahwa Al-Quran itu adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa. Disini secara jelas Allah SWT memberikan petunjuk kepada manusia agar mereka tidak sesat yaitu dengan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dan sebagaimana disampaikan juga dalam surah al-ahzab ayat 51 bahwa rasulullah dijadikan untuk menjadi suri tauladan yang baik. Jadi selain berpegang kepada Al-Quran kita juga dalam contoh nyata mengikuti tingkah laku rasulullah sebagaimana digambarkan dalam as-sunnah. Hal hal yang perlu kita lakukan untuk menjauhi krisis moral adalah sebagai berikut :

a.Shalat
Shalat adalah salah satu cara yang paling bagus karena dikatakan bahwa shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
b.Puasa
Dengan kita berpuasa tentunya kita akan menjauhi hal hal yang dapat membatalkan puasa tersebut, dan orang yang berpuasa cenderung berperilaku jujur karena dipuasa kita diajarkan menjadi orang yang jujur dan sabar.
c.Bergaul dengan orang orang shaleh
Dengan bergaul dengan orang orang yang shaleh tentunya kita akan terhindar dari lingkungan yang mengajak kita kepada hal hal yang tidak baik.
d.Membiasakan untuk berperilaku jujur
e.Menanamkan pemahaman bahwa hidup ini hanya sementara
f.Mendekatkan diri kepada Allah SWT.


KESIMPULAN
Krisis moral merupakan masalah yang terjadi dewasa ini, pada intinya orang atau masyarakat yang mengalami krisis moral cenderung berpaling dari ajaran agama Islam, untuk mengatasinya masyarakat harus kembali kepada ajaran Islam secara menyeluruh dengan melakukan hal hal yang diperintahkan dan menjauhi hal hal yang dilarang.

About Handia Fahrurrozi

Bebas namun beraturan, kegagalan adalah keberhasilan yang tidak diperjuangkan

One response »

  1. satar mengatakan:

    salam kenal sob..dr Kanak Dusun Narmada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s