Renungkanlah,, (QS 2: 2-4)
Al-kisah, seorang anak muda bernama Fulan telah kembali ke desanya, setelah menyelesaikan studinya dari jenjang sarjana sampai dengan doktoral di Oxford University. Dahulu, sebelum berangkat melanjutkan studi si Fulan merupakan orang yang taat terhadap ajaran agama, segala perintah yang ditetapkan oleh agama yang di anutnya selalu ia kerjakan dengan baik dan begitu juga dengan menjauhi segala hal yang dilarang oleh ajaran agamanya. Setelah 10 tahun belajar dan menimba ilmu di luar negeri si Fulan kembali ke kampung halamannya, sekilas tidak ada yang berbeda dengan dia 10 tahun yang lalu selain ilmu yang dimilikinya. Namun, setelah beberapa hari di kampung halaman, barulah orang tuanya sadar bahwa si Fulan ternyata telah jauh berbeda ia sekarang enggan melaksanakan ibadah karena ia yakin dengan segala teori yang ia pernah pelajari mengatakan bahwa semua ibadah yang dia lakukan tidak akan berdampak apa-apa. Ini di dasarkan pada 3 pertanyaannya yang sampai saat ini dia tidak pernah menemukan jawaban yang memuaskan.Pada suatu ketika si Fulan berjalan di pematang sawah dan bertemu dengan seorang pria tua, kemudian si Fulan berkata:
Fulan : “selamat sore kek, bolehkan saya bertanya?”
Kakek : “tentu anak muda, selama kakek bisa jawab”
Fulan : “Apakah kakek yakin??” (dengan keraguan kalau sang kakek bisa menjawab pertanyaannya)
Kakek : ” Segala perkara pasti ada jawabannya, dan dengan izin Allah Swt, Insya Allah kakek akan jawab”
Fulan : ” Begini kek, saya punya 3 pertanyaan yang belum bisa di jawab oleh semua orang yang pernah saya tanya, bahkan professor pun tidak bisa menjawabnya”
Kakek :” Hal apakah itu anak muda”
Fulan : “Baiklah, pertanyaan saya yang pertama Kalau memang Tuhan itu ada, coba kakek tunjukkan wujudnya pada saya, yang kedua apa itu takdir?, dan yang terakhir bagaimana logikanya sesuatu yang diciptakan dari zat yang sama seperti syaitan kemudian katanya di masukkan ke dalam neraka akan merasakan sakit, padahal kita tau neraka itu terbuat dari api?”
Setelah selesai bertanya tiba-tiba Kakek menampar pipi si Fulan dengan sangat keras (plaaaaaaaaaaakkkk)
Fulan : “Kenapa kakek malah menampar saya, bukannya memberikan jawaban??, (dengan geram sambil menahan rasa sakit)
Kakek : “itulah jawaban dari ketiga pertanyaanmu tadi anak muda”
Fulan : ” Apa?????? (makin bingung)
bagaimana bisa?
Kakek: “Bagaimana tamparan saya tadi??”
Fulan : “Sakit!”
Kakek : “Yakin sakit??”
Fulan : (makin marah karena merasa dipermainkan oleh kakek) ” ya jelaslah sakit, kakek tadi namparnya keras sekali”
Kakek : (tersenyum) ” Apakah kamu liat sakit itu??”
Fulan : ” Jelas tidak!!!”
Kakek : ” lalu bagaimana kamu bisa tau bahwa itu adalah sakit, padahal kamu tidak pernah melihatnya??”
Fulan :—————- (si Fulan terdiam)
Kakek : “itulah jawaban atas pertanyaan yang pertama, kita memang tidak bisa melihat wujud Allah Swt, namun kita bisa merasakannya wujudnya tanpa melihatnya”
Fulan : (mengangguk sambil berfikir) ” lalu pertanyaan yang kedua??”
Kakek : ” Apakah kamu mempunyai rencana bertamu dengan saya??”
Fulan : ” Jelas tidak, kita saja baru kenal sekarang bagaimana logikanya bisa membuat janji”
Kakek : ” kalau begitu, kamu tadi malam bermimpi bertemu saya?”
Fulan : ” tidak juga, buat apa juga saya mimpiin kakek”
Kakek : ” Tapi, kenapa sekarang kamu bertemu dengan saya yang tidak kamu kenal dan tidak pernah merencanakannya?”
Fulan : “tidak tau”
Kakek : (tersenyum) ” itulah yang dinamakan takdir”
Fulan : (masih belum puas) ” Kalo begitu bagaimana dengan yang ketiga, saya yakin Anda tidak bisa menjawab”
Kakek : ” Tamparan saya yang tadi sakit??”
Fulan : “JELAS LAH, buktinya ini pipi saya sampai merah”
Kakek : “terbuat dari apa pipi Anda dan tangan saya?”
Fulan : “Sama-sama dari kulit”
Kakek : ” Benar, tangan saya dari kulit dan pipi Anda juga dari kulit. Namun, ketika saya tampar Anda merasakan sakit padahal dia tersusun atas zat yang sama, begitu juga dengan syaitan dan neraka. Syaitan akan tetap merasakan sakit walaupun dia sama-sama terbuat dari api, karena jika Allah sudah menghendaki maka tidak ada yang tidak mungkin”

“Kitab (Al Qur’an) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS 2:2-4)

About Handia Fahrurrozi

Bebas namun beraturan, kegagalan adalah keberhasilan yang tidak diperjuangkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s