LATAR BELAKANG
Persoalan kepemimpinan selalu memberikan kesan yang menarik, oleh sebab itu permasalahan kepemimpinan merupakan topik yang menarik dan dapat dimulai dari sudut mana saja bahkan dari waktu ke waktu menjadi perhatian manusia. Ada yang berpendapat masalah kepemimpinan itu sama halnya dengan sejarah manusia, kepemimpinan dibutuhkan manusia, karena adanya suatu keterbatasan dan kelebihan-kelebihan, tetapi pada manusia di satu pihak manusia terbatas kemampuannya untuk memimpin. Disinilah timbulnya kebutuhan akan pemimpin dan kepemimpinan.
Kalau ditelusuri lebih lanjut, betapa pentingnya pemimpin dan kepemimpinan dalam suatu kelompok organisasi jika terjadi suatu konflik atau perselisihan antara orang-orang dalam kelompok tersebut, maka organisasi mencari alternative pemecahannya supaya terjamin keteraturan dan dapat ditaati bersama, dengan demikian terbentuklah aturan-aturan, norma-norma atau kebijakan untuk ditaati agar konflik tidak terulang lagi. Ketika itulah orang-orang mulai mengidentifikasikan dirinya pada kelompok, dalam hal ini peranan pimpinan sangat dibutuhkan.
Melihat pentingnya sudut situasi dan waktu yang dipengaruhi oleh lingkungan kerja organisasi, maka dipandang perlu pemimpin yang melihat kondisi dan lingkungan berdasarkan gaya kepemimpinan yang diperannya. Para pemimpin yang melihat situasi dalam mengembangkan karyawannya, dimana keterkaitan ini menguntungkan bagi karyawan dengan adanya kesempatan mereka meningkatkan prestasi kerja (kinerja) dapat didukung secara informal oleh pemimpin yang bersifat melihat situasi kecenderungan karakteristik sifat dan tingkat prestasi karyawannya.
Studi kepemimpinan yang pada awal perkembangannya cenderung bersifat induktif murni menempati posisi sentral dalam literatur menajemen dan perilaku keorganisasian pada beberapa dekade terakhir. Secara umum, kajian perkembangan riset dan teori kepemimpinan dapat dikategorikan menjadi tiga tahap penting (Ogbonna dan Harris, 2000 : 25). Pertama, tahap awal studi tentang kepemimpinan menhasilkan teori-teori sifat kepemimpinan (trait theories), yang mengasumsikan bahwa seseorang dilahirkan untuk menjadi pemimpin dan bahwa dia memiliki sifat atau atribusi personal yang membedakannya dari mereka yang bukan pemimpin. Kedua, karena muncul kritik terhadap sulitnya mengelompokkan dan memvalidasi sifat pemimpin, kemudian muncul teori-teori perilaku kepemimpinan (behavioral theories). Pada teori ini, penekanan yang semula diarahkan pada sifat pemimpin dialihkan kepada perilaku dan gaya yang dianut oleh para pemimpin. Dengan demikian, berdasarkan teori ini, agar organisasi dapat berjalan secara efektif, terhadap penekanan suatu gaya kepemimpinan terbaik (one best way of leading). Ketiga, berdasarkan anggapan bahwa baik teori-teori sifat kepemimpinan maupun teori-teori perilaku kepemimpinan memiliki kelemahan yang sama, yaitu mengabaikan peranan penting faktor-faktor situasional dalam menentukan efektifitas kepemimpinan, kemudian muncul teori-teori kepemimpinan situasional (situasional theories). Dari pengembangan kelompok teori yang terakhir ini, maka terjadi perubahan orientasi dari one best way leading menjadi context-sensitive leadership. Jika ditelusuri lebih lanjut, perkembangan ketiga teori kepemimpinan tersebut tidak dapat dipisahkan dari paradigma riset kepemimpinan.
Perilaku kepemimpinan situasional yang diterapkan oleh seorang pemimpin dalam membangun kemajuan perusahaan dengan melihat factor situasi dan kondisi diperlukan adanya peningkatan mutu sumber daya manusia yang menjadi landasan suatu organisasi untuk menunjukkan output dalam bekerja menjadi maksimal. Peningkatan sumber daya manusia ini dapat dilihat oleh pimpinan menjadi suatu bagian yang utuh yaitu, adanya kualitas pencapaian hasil kerja karyawan dalam perusahaan, serta kuantitas dari segi efisiensi dan efektivitas yang dilakukan karyawan. Menurut Pamungkas (2005 : 38) bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah penampilan cara-cara untuk menghasilkan sesuatu hasil yang diperoleh dengan aktifitas yang dicapai dengan suatu unjuk kerja. Maka dengan demikian dibutuhkan kinerja dalam suatu perusahaan atau organisasi yang dapat mengukur seberapa besar tingkat kemampuan pelaksanaan-pelaksaan tugas organisasi dalam rangka pencapaian tujuan.
Berangkat dari visi dan misi perusahaan dalam perspektif masa datang, maka keberhasilan yang hendak diwujudkan tidak akan terlepas dari Gaya Kepemimpinan yang diterapkan pimpinan, yakni mampu mengenal kebutuhan individu, membantu mengembangkan prestasi pegawai , membuat penyelarasan dan pengawalan atas prosedur dan inovasi.

Sukses perusahaan sering dikaitkan dengan Gaya Kepemimpinan dari seorang pimpinan. Gaya Kepemimpinan ini merujuk kepada bagaimana seseorang pimpinan memerankan dimensi Perilaku Hubungan dan dimensi Perilaku Tugas yang dilengkapi dimensi Tingkat Kesiapan pegawai. Kelemahan pimpinan dapat dilihat dari persepsi pegawai yang bersifat negatif terhadap pimpinan mereka. Kepemimpinan yang lemah dan tidak berkesan ini sering dihubungkan dengan minimnya kreativitas di kalangan pegawai. Sementara minimnya kreativitas sangat mempengaruhi kinerja pegawai (Anderson dan Iwanicki, 1984).
Keberhasilan perusahaan juga banyak bergantung kepada bagaimana pimpinan dapat menerapkan Gaya Kepemimpinan yang sesuai , yang mampu menyelesaikan permasalahan yang timbul. Mampu memecahkan persoalan, bukan berarti mempunyai kelebihan disegala bidang, akan tetapi pimpinan tersebut unggul dalam hal tertentu. Misalnya, kemampuannya dalam pengambilan dan melaksanakan keputusan, mampu memanfaatkan kelebihan bawahannya, bertanggung jawab serta bersedia menanggung resiko. Keunggulan yang dimiliki pimpinan inilah yang akan mempengaruhi pegawainya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan perusahaan.
Persoalan kepemimpinan merupakan permasalahan yang besar dalam menentukan keberhasilan perusahaan. Namun demikian, pimpinan sering menghadapi kendala dalam menjalankan tugasnya, antara lain sulitnya pegawai dalam menerima perubahan, tidak dapat menerima nasihat dan kritikan, kurang berusaha, kurang memiliki semangat kekeluargaan, bersikap negatif dan sebagainya.
Kepentingan pimpinan dalam pengelolaan perusahaan dapat dilihat dalam dua aspek. Pertama, memandankan perusahaan sebagai organisasi yang dianggap profesional, peranan pimpinan lebih merupakan sebagai seorang pimpinan pegawai. Mereka terlibat dalam pembuatan keputusan, menyusun program, memberi dorongan, penyelaras dan menilai pegawai yang dipimpinnya. Kedua, perusahaan dilihat sebagai sebuah organisasi yang sentiasa berubah. Sudah semestinya setiap perubahan memerlukan suatu penyesuaian guna mengatasi segala persoalan yang timbul. Kemampuan untuk menyelesaikan persoalan yang timbul merupakan tugas utama pimpinan sebagai pengelola perusahaan.

TINJAUAN MATERI
Kepemimpinan meliputi bidang yang sangat luas cakupannya sehingga pengertian tentang kepemimpinan juga bermacam-macam. Berikut beberapa pengertian tentang kepemimpinan dari berbagai sudut pandang.
1. Pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan untuk meminta orang lain melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai yang akhirnya mereka menyukainya (Harry S. Trauman, 1975)
2. Pemimpin adalah mengangkat visi seseorang ke dalam pandangan yang lebih tinggi, meningkatkan kinerja seseorang ke dalam standar yang lebih tinggi, membangun personalitas seseorang di atas batas-batas normal. (Peter F. Drucker, 1955)
3. Kepemimpinan dalah kemapuan mempengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Robbins, 2003)
4. Tindakan memfokuskan sumber daya untuk menciptakan peluang yang diharapkan. (Campbell, 1991)

Teori-teori tentang kepemimpinan
1. Teori sifat (Trait Theory)
2. Teori prilaku
3. Studi Ohio
4. Studi Michigian
5. Managerial Grid
6. Studi Skandinavia
Pendekatan-pendekatan studi kepemimpinan
Pendekatan pertama memandang kepemimpinan sebagai suatu kombinasi sifat-sifat (traits) yang tampak. Pendekatan kedua bermaksud mengidentifikasikan prilaku-prilaku (behaviors) pribadi yang berhubungan dengan kepemimpinan efektif. Kedua pendekatan ini mempunyai anggapan bahwa seorang individu yang memiliki sifat-sifat tertentu atau memperagakan perilaku-perilaku tertentu akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi kelompok apapun dimana dia berada.
Pemikiran dan penelitian sekarang mendasarkan pada pendekatan ketiga,yaitu pandangan situasional tentang kepemimpinan.Pandangan ini menganggap bahwa kondisi yang menentukan efektifitas kepemimpinan bervariasi dengan situasi dan tugas-tugas yang dilakukan,keterampilan dan pengharapan bawahan,lingkungan organisasi,pengalaman masa lalu pemimpin dan bawahan,dan sebagainya. Pandangan ini telah menimbulkan “contingency” pada kepemimpinan,yang bermaksud untuk menetapkan factor-faktor situasional yang menentukan seberapa besar efektifitas situasi gaya kepemimpinan tertentu.
Ketiga pendekatan tersebut akan dibahas secara kronologik,sebagai berikut :
Sifat-sifat→perilaku→situasional─contingency
Pendekatan sifat-sifat kepemimpinan
Seorang peneliti,Edwin Ghiselli,dalam penelitian ilmiahnya telah menunjukkan sifat-sifat tertentu yang tampaknya penting untuk kepemimpinan efektif. Sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas (supervisory ability) atau pelaksanaan fungsi-fungsi dasar manajemen,terutama pengarahan dan pengawasan pekerjaan orang lain.
2. Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan,mencakup pencarian tanggung jawab dan keinginan sukses.
3. Kecerdasan,mencakup kebijakan,pemikiran kreatif dan daya piker.
4. Ketegasan (deciviveness),atau kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan memecahkan masalah-masalah dengan cakap dan tepat.
5. Kepercayaan diri,atau pandangan trhadap dirinya sebagai kemampuan untuk menghadapi masalah.
6. Inisiatif,atau kemampuan untuk bertindak tidak tergantung,mengembangkan serangkaian kegiatan dan menemukan cara-cara baru atau inovasi.
Sedangkan Keith Davis mengikhtisarkan 4 (empat) cirri/sifat utama yang mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan kepemimpinan organisasi,yaitu:
1. Kecerdasan
2. Kedewasaan dan keluasan hubungan social
3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi
4. Sikap-sikap hubungan manusiawi

Pendekatan perilaku kepemimpinan
Pendekatan perilaku memusatkan perhatiannya pada dua aspek perilaku kepemimpinan, yaitu fungsi-fungsi dan gaya-gaya kepemimpinan.
 Fungsi-fungsi kepemimpinan
Pendekatan perilaku membahas orientasi atau identifikasi pemimpin.Aspek pertama pendekatan perilaku kepemimpinan menekankan pada fungsi-fungsi yang dilakukan pemimpin dalam kelompoknya.Agar kelompok beerjalan dengan efektif,seseorang harus melaksanakan dua fungsi utama,yaitu :
1. Fungsi-fungsi yang berhubungan dengan tugas (“task-related”) atau pemecahan masalah. Menyangkut pemberian saran penyelesaian,informasi dan pendapat.
2. Fungsi-fungsi pemeliharaan kelompok (“group-maintenance”) atau social. Mencakup segala sesuatu yang dapat membantu kelompok berjalan lebih lancer dan persetujuan dengan kelompok lain,penengahan perbedaan pendapat,dan sebagainya.

 Gaya-gaya kepemimpinan
Pandangan kedua tentang perilaku kepemimpinan memusatkan pada gaya pemimpin dalam hubungannya dengan bawahan.Para peneliti telah mengidentifikasikan dua gaya kepemimpinan,yaitu:

1. Gaya dengan orientasi tugas (task-oriented)
2. Gaya dengan orientasi karyawan (employee-oriented)
Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkannya.
Pendekatan situasional (“contingency”)
Pendekatan situasional-contingency menggambarkan bahwa gaya yang digunakan adalah bergantung pada factor-faktor seperti situasi.karyawan,tugas.organisasi dan variabel-variabel lingkungan lainnya.
 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan
Mary Parker Follett,yang mengembangkan hukum situasi,mengatakan bahwa ada tiga variabel kritis yang mempengaruhi gaya pemimpin,yaitu :
1. Pemimpin
2. Pengikut atau bawahan
3. Situasi
Ketiganya salingg berhubungan dan berinteraksi,seperti ditunjukkan gambar 14.3. Follett juga menyatakan bahwa para pemimpin seharusnya berorientasi pada kelompok dan bukan berorientasi pada kekuasaan.

Kemampuan dan kualitas pemimpin

Situasi Kemampuan dan kualitas bawahan
Gambar 14.3. Hubungan antara pemimpin,bawahan dan situasi
 Pentingnya Fleksibilitas
Dalam organisasi,seperti juga dalam kehidupan lainnya,dibutuhkan fleksibilitas. Ini membantu untuk menanggapi terhadap orang-orang dan situasi-situasi secara tepat dan membuat penyesuaian bila terjadi penyimpangan dari antisipasi.Sebagai manajer.periiaku kepemimpinannya akan dipelajari pada jabatannya,saat berinteraksi dengan para bawahan dan tugas-tugas mereka.

PROFIL SENGGIGI BEACH HOTEL
Alamat: Jalan Raya Senggigi Lombok
INFORMASI HOTEL:
Berada di salah satu tujuan wisata favorit di Pulau Lombok, Senggigi Beach Hotel adalah salah satu hotel yang tidak hanya menyajikan keindahan yang dimiliki oleh pulau ini dengan pantai yang menawan dan suasanan sunset yang tak akan terlupakan namun resort ini juga menyediakan kamar yang nyaman dan fasilitas yang lengkap.
Dibangun diatas tanah seluas kurang lebih 12 hektar, Senggigi Beach Hotel di kelilingi dengan kebun tropis dan berada di tengah-tengah hamparan pantai berpasir putih Senggigi membuat resort ini terhindar dari hiruk pikuk aktifitas di daerah Senggigi yang menjadi pusat kegiatan wisatawan yang berlibur ke pulau Lombok. Di sekitar resort ini banyak terdapat restaurant, pusat perbelanjaan, pusat hiburan dan tempat-tempat yang menarik untuk bersantai. Dari bandara di Mataram, perjalanan ke resort ini memerlukan waktu sekitar 20 menit berkendara, sedangkan untuk bersantai atau berbelanja, Anda hanya perlu berjalan kaki dari resort ini.
Selain tempat yang strategis,Senggigi Beach Hotel juga menyediakan kamar yang nyaman dan fasilitas yang lengkap dengan pilihan kamar antara lain Garden Room, Beach Bungalows dan Deluxe Bungalow Sea View. Setiap kamar dan bungalow dilengkapi dengan fasilitas antara lain safe deposit boxes, televisi dengan satellite channel, mini bar, lemari es, pembuat teh dan kopi, seterika dan papan seterika, air panas dan dingin, serta balcony. Resort ini mempunyai dua pilihan kamar yaitu kamar yang menghadap kearah taman dan kamar yang menghadap kearah pantai serta pilihan single atau double bed.

Fasilitas yang disediakan di Senggigi Beach Hotel antara lain 3 restaurant yang menyajikan kekayaan kuliner dari pulau Lombok, 2 bar, Islander boutique, pertokoan, telex dan facsimile, layanan pos, took kerajinan dari Tanah liat, drugstore, klinic dan layanan laundry. Sementara itu fasilitas olahraga yang disediakan antara lain 2 lapangan tennis, kolam renang, fasilitas olahraga air, tennis meja, jogging track, volley ball dan badminton.

PEMBAHASAN
Kepemimpinan merupakan factor yang sangat penting bagi pengembangan organisasi. Karena pada salah sastu hakikatnya dengan kemimpinan dapat menjadikan kita mengerjakan hal-hal yang tidak kita sukai dan mengubahnya menjadi hal kita sukai. Untuk membuktikan hal ini apakah benar terjadi di lapangan yang sesuai dengan konsep yang kami pahami; kami melakukan analisis dengan memberikan kuesioner seputar kepemimpinan yang ditinjau dari beberapa aspek antara lain adalah sebagai berikut : Gaya kepemimpinan, Motivasi kerja pegawai, disiplin kerja (akibat motivasi yang diberikan pimpinnya), dan yang terakhir adalah prilaku pemimpin. Sampel ini kami berikan pada pegawai di “Senggigi Beach Hotel” yang sekaligus merupakan perusahaan yang merupakan tempat kami melakukan analisis.

A. Gaya Kepemimpinan
Secara garis besar gaya kepemimpinan yang di gunakan oleh pimpinan di “Senggigi Beach Hotel” merupakan pimpinan yang demokratis, dimana dari hasil kuesioner tersebut, pimpinan perusahaan sangat respect terhadap bawahannya, pimpinan juga tidak menyerahkan sepenuhnya tugas untuk di kerjakan oleh bawahan. Namun, untuk beberapa hal tertentu dia sendirilah yang mengerjakannya. Selain itu, pimpinan juga dan memilah dan menindentifikasikan kepada bawahannya terhadap tujuan personal dan tujuan organisasi, sehingga pada tahapan ini kemajuan perusahaan lebih di utamakan oleh pimpinanya dari pada ambisi pribadi untuk mencapai keuntungan dari kenerja bawahannya agar sang pimpinan dapat promosi jabatan.

B. Motivasi kerja pegawai
Kembali lagi pada salah satu pengertian pemimpin, dimana pemimpin merupakan orang yang memiliki kemampuan membuat orang lain mengerjakan hal-hal yang mereka tidak sukai menjadi hal yang mereka sukai. Pada data kuesioner yang kami berikan, latar belakang pendidikan pegawai di Senggigi Beach Hotel, minimal adalah D1 pariwisata dan banyak juga yang latar belakang pendidikannya adalah sarjana (S1). Namun, setelah masuk ke dalam perusahaan, sangat banyak di antara pekerja tersebut malah di tempatkan pada tempat yang tidak sesuai dengan porsi dan latar belakang pendidikan yang mereka miliki. Sebagai contoh Eko Priyanto (46 tahun) dengan latar belakang pendidikan adalah sarjana (S1), di tempatkan pada divisi Room, padahal pada posisi tersebut di isi juga oleh I Putu Sualiadnya Adi Jaya (47 tahun) dengan latar belakang pendidikan D1 pariwisata. Sebuah system penempatan yang dalam pandangan kita sebagai orang dari luar perusahaan tersebut akan mengatakan tidak adil. Namun, dengan pengaruh kepemimpinan dan pimpinan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut kedua orang tadi, malah menyukai penempatan kerja mereka, ini kami dapat buktikan dengan masa kerja yang dimiliki masing-masing orang tadi ternyata sangat lama. Dimana Eko Priyanto memiliki masa kerja selama 19 tahun, sedangkan I Putu Sualiadnya Adi Jaya jauh lebih lama lagi yakni 24 tahun. Dari data analisis ini menguatkan teori yang di ungkapkan oleh Harry S. Trauman, 1975 “Pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan untuk meminta orang lain melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai yang akhirnya mereka menyukainya”.

C. Disiplin kerja
Robbins mengatakan “kepemimpianan adalah kemampuan mempengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan (2003)” selain itu Pemimpin adalah mengangkat visi seseorang ke dalam pandangan yang lebih tinggi, meningkatkan kinerja seseorang ke dalam standar yang lebih tinggi, membangun personalitas seseorang di atas batas-batas normal. (Peter F. Drucker, 1955). Disiplin kerja pegawai yang ada di Senggigi Beach Hotel tidak lepas dari pengaruh pemimpin yang ada disana. Dimana dalam membangun disiplin pegawai pimpinan menggunakan pendekatan-pendekatan kepemimpinan (pandangan situasional kepemimpinan) yang berintegral dengan sifat-sifat kepemimpinan. Dalam hal ini pemimpin berefleksi sebagai supervisor terhadap bawahannya yang kadang kala bersifat tegas dan di lain waktu juga dapat memberikan pengarah. Hal nyata dari penerapan pendekatan ini dapat kita lihat dari hasil kuesioner antara lain: para pegawai senang bahkan bangga jika setiap saat jam kerja menggunakan tanda pengenal dan seragam, pegawai juga sangat konsen terhadap absen yang menjadi alat ukur kedisiplinan, para pegawai juga siap menerima sanksi apabila mereka melakukan kesalahan. Selain itu, ketegasan bukan satu-satunya cara yang digunakan di Senggigi Beach Hotel, motivasi dan pengarahan juga merupakan salah satu cara yang di gunakan oleh pimpinan perusahaan, sehingga pegawai disana termotivasi dalam menyelesaikan pekerjaannya.

D. Perilaku pemimpin
Perilaku pimpinan merupakan salah satu factor yang akan mempengaruhi pemimpin tersebut akan disegani, diikuti, di jauhi atau bahkan dimusuhi oleh bawahnya. Karena pada hakikatnya bawahannya tidak begitu suka dengan pimpinan yang hanya memberikan perintah tanpa memberikan penjelasan dan pengarahan terhadap perintah tersebut, lebih-lebih memberikan contoh terhadap perkerjaan itu. Perilaku pemimpin yang ideal adalah orang yang mengerti tentang tugas yang diberikan kepada bawahannya dan menganggap bahwa itu merupakan parsial dari tugas yang sebenarnya adalah milik pemimpin itu sendiri, selain itu pemimpin yang ideal juga mau berkomunikasi dan berkosultansi dan sekaligus mau mendengar aspirasi bawahannya. Selain itu, tentunya pemimpin haruslah orang yang mempunyai visi dan inisiatif yang jauh lebih maju daripada bawahannya, inisatif ini diperlukan dalam membuat inovasi yang nantinya akan berintegral dengan kepercayaan diri dari pimpinan dalam mendiskrispsikan dan menjelaskan dalam pelaksanaan suatu tugas. Dari beberapa aspek pemimpin yang ideal seperti yang dikemukakan di atas rata-rata semua pegawai di organisasi manapun menginginkannya, begitu juga di Senggigi Beach Hotel. Sosok pemimpin yang ideal seperti yang di atas juga sangat mereka inginkan, ini di buktikan dari hasil kuesioner yang kami berikan. Dan hasil analisis kami terhadap perilaku pimpinan di perusahaan tersebut sudah mengakomodasi beberapa aspek dari pemimpin yang ideal , namun ada beberapa aspek juga yang belum dilaksnakan bahkan enggan dilaksanakan oleh pemimpin perusahaan tersebut.


KESIMPULAN
Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi seseorang atau kelompok orang untuk berbuat sesuatu yang menjadi tujuan organisasi dengan cara-cara tertentu sedemikian hingga orang/kelompok orang tersebut pada akhirnya mengikuti bahkan menyukai kegiatan tersebut yang walaupun pada awalnya mereka membencinya. Kepemimpinan yang ada di Senggigi Beach Hotel telah mampu mentransformasikan pegawainya sehingga dapat bekerja sesuai dengan visi dan tujuan perusahaan. Kemampuan kepemimpinan juga membuat motivasi pegawai dalam bekerja menjadi lebih tinggi. Motivasi dan disiplin kerja pegawai tersebut disebabkan oleh gaya kepemimpinan yang demokratis dan perilaku pemimpin yang ada. Pada akhirnya sebuah organisasi atau perusahaan perkembangannya akan sangat ditentukan oleh bagaimana cara pemimpin perusahaan tersebut melakukan kepemimpinan. Karena kepemimpinan tersebutlah yang akan menjadikan budaya dan pedoman yang diikuti atau di jauhi oleh bawahannya.

Tentang Handia Fahrurrozi

Bebas namun beraturan, kegagalan adalah keberhasilan yang tidak diperjuangkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s